blognya rian risendy ngok
Sabtu, 05 Maret 2022
Senin, 22 Februari 2021
Jumat, 17 April 2015
abtrak tesis Analisis Penerapan Aplikasi Simda 2.1. Berdasarkan Konstruksi TAM (Technology Acceptance Model) Pada Aparatur Pemerintah Kabupaten Donggala
ABSTRAK
Rian Risendy H 202 13 037. Analisis Penerapan
Aplikasi Simda 2.1. Berdasarkan Konstruksi TAM (Technology Acceptance Model) Pada Aparatur
Pemerintah Kabupaten Donggala. dibimbing oleh Andi Mattulada
selaku pembimbing I dan Fadli Mohammad
Soleh selaku pembimbing II.
Penelitian ini bertujuan untuk
mengetahui dan menganalisis persepsi pengguna
aplikasi SIMDA 2.1. pada SKPD Kabupaten Donggala, persepsi yang menjadi variabel yaitu persepsi kemanfaatan dan persepsi
kemudahan, pada persepsi kemanfaatan akan menganalisis mengenai pengalaman, dan
pada variabel kemudahan akan menganalisis mengenai rancangan layar aplikasi
SIMDA,
Metode analisis yang digunakan adalah analisis TAM (Technology Acceptance Model) atau metode keberterimaan penguna terhadap
teknologi. Data yang digunakan
dalam penelitian ini adalah data primer dan sekunder yang diperoleh dari objek penelitian kabupaten
Donggala yang dikumpulkan melalui wawancara serta studi
dokumentasi yang berkaitan dengan penelitian ini.
Hasil penelitian
menunjukan bahwa : (1). Aplikasi SIMDA 2.1. sangat bermanfaat dalam proses keuangan mulai dari
penganggaran sampai pelaporan keuangan, manfaat besar yang dirasakan
pengguna aplikasi ini, difokuskan pada telah terintegrasinya semua proses dari
awal sampai akhir
(2). kemudahan aplikasi ini didapatkan
peneliti bahwa aplikasi SIMDA 2.1. telah dilengkapi dengan SOP selain itu
penggunaan bahasa yang sudah menggunakan bahasa indonesia, sehingga tools-tools atau tombol perintah dapat
diketahui fungsi dan manfaatnya pada sisi penentuan sikap awalnya operator lebih merasakan manfaatnya
dulu setelah itu kemudahannya, yang didapatkan dari bimbingan teknis, pengajaran
dari operator sebelumnya, dan buku manual pengunaan aplikasi, tahap penentuan minat ada pada persepsi
kemanfaatan, karena operator merasakan manfaat yang besar dari aplikasi dalam
membantu dalam bekerja tahap penentuan perilaku atau menjadi penguna tetap dari
aplikasi ini ada pada manfaat yang besar pada kinerja dalam menjelesaikan
pekerjaan
. Penelitian
menggunakan desain penelitian sampel dan bersifat deskriptif. Sumber
data berupa data Primer, yaitu data yang dikumpulkan melalui wawancara, serta studi dokumentasi yang berkaitan dengan penelitian ini.
Kata Kunci: Aplikasi SIMDA 2.1.,
Kabupaten Donggala, Persepsi aparatur pemerintah, prinsip Dasar Penyusunan Sistem
Informasi Akuntansi
ANALISIS RISIKO VALAS, RISIKO PERBANKAN DAN RISIKO LIKUIDITAS
PEMBAHASAN
A.
Resiko
Perubahan Nilai Tukar / Kurs
Resiko nilai tukar
adalah resiko yang diakibatkan karena adanya perubahan nilai tukar mata uang
asing. Pada umumnya, transaksi-transaksi bisnis yang berhubungan dengan mata
uang asing (valuta asing) biasanya akan menghadapi masalah perubahan nilai kurs
mata uang tersebut.
Kurs adalah nilai
suatu mata uang relatif terhadap mata uang lainnya. Mata uang suatu negara
merupakan cerminan kondisi ekonomi suatu negara. Apabila perekonomian suatu
negara membaik, maka mata uang negara tersebut akan menguat terhadap mata uang
negara lain. Jika suatu negara menetapkan kurs mata uangnya terhadap mata uang
lain, maka perubahan kurs tidak lagi terjadi melalui mekanisme pasar.
Pada sistem kurs
bebas, apabila mata uang menguat disebut dengan apresiasi dan jika mata
uang melemah disebut depresiasi. Sedangkan pada sistem kurs tetap,
apabila mata uang menguat disebut revaluasi dan jika mata uang melemah
disebut devaluasi.
Berikut akan
disajikan contoh perhitungan apresiasi dan depresiasi mata uang rupiah (Rp)
terhadap Dolar ($).
|
Keterangan
|
Rupiah
melemah terhadap $
|
Rupiah
menguat terhadap $
|
|
Kurs awal tahun
|
Rp. 9000
|
Rp. 9000
|
|
Kurs akhir tahun
|
Rp. 11000
|
Rp. 7000
|
|
Persentase
pelemahan/penguatan $ terhadap Rp
|
(11000-9000)/(9000)
x 100%
= 22.22%
|
(7000-9000)/(9000)x 100 %= -22.22%
|
|
Persentase
pelemahan/penguatan VRp terhadap $
|
(9000-11000)/(11000)
x 100%
= -18.18%
|
(9000-7000)/(7000)
x 100 %= 28.57%
|
Penjelasan
:
Pada kolom kedua,
disajikan situasi Rupiah melemah dari Rp. 9000/$ pada awal tahun menjadi Rp
11000/$ pada akhir tahun. Berarti dolar mengalami apresiasi terhadap rupiah
sebesar 22,22%. Apabila dipandang dari sudut rupiah, berarti Rupiah mengalami
depresiasi terhadap dolar sebesar 18,18%. Sedangkan pada kolom ketiga,
disajikan bahwa pada awal tahun rupiah menguat dari Rp. 9000/$ menjadi Rp.
7000/$ pada akhir tahun. Berarti dolar mengalami depresiasi terhadap rupiah
sebesar 22.22% dan dari sudut pandang rupiah, berarti rupiah mengalami
apresiasi terhadap dolar sebesar 28.57%
B. Faktor-Faktor yang Menyebabkan Perubahan Kurs
Ø
Inflasi
Kurs mata uang suatu negara menjadi melemah apabila
inflasi di negara tersebut lebih tinggi daripada inflasi yang terjadi di negara
lain. Hubungannya terlihat melalui persamaan kondisi paritas Purchasing
Power Parity (PPP) seperti berikut ini:
et / e0 = (1+ih)t / (1+if)t
keterangan :
et
= kurs pada priode t
e0
= kurs pada awal priode
ih
= inflasi yang terjadi pada negara
domestic (home)
if
=inflasi yang terjadi pada negara
asing
t =
waktu
contoh :
kurs awal adalah
Rp.10000$. Inflasi di Indonesia 20% dan Amerika Serikat 5%. Kurs Rp/$ satu
tahun mendatang menurut rumus di atas adalah :
e1 = 10000 (1+0,2)1/(1+0,05)1
= Rp. 11.429/$
Dari hasil ini dapat diketahui
bahwa kurs di akhir tahun adalah Rp. 11.429/$ dan berarti rupiah mengalami
depresiasi terhadap Dolar ($).
Ø
Perbedaan
Tingkat Bunga
Tingkat bunga ada 2 yaitu :
a. Tingkat bunga nominal
Yaitu tingkat bunga
yang bisa diobservasi. Misalnya jika ada informasi tingkat bunga deposito
sebesar 14% perrtahun maka itu merupakan tingkat bunga nominal. Negara yang
tingkat bunga nominalnya tinggi maka mata uangnya cendrung mengalami
depresiasi. Hal ini dijelaskan melalui persamaan kondisi paritas international
fisher effect seperti berikut ini:
et / e0 = (1 +
rh)t / (1 + rf)t
Keterangan :
et
= kurs pada priode t
e0
= kurs pada awal priode
rh
= tingkat bunga nominal di negara domestic (home)
rf
= tingkat bunga nominal pada negara asing
t
= waktu
contoh : kurs awal adalah Rp.10000$. Inflasi di
Indonesia 20% dan Amerika Serikat 5%. Kurs Rp/$ satu tahun mendatang menurut rumus
di atas adalah
e1
= 10000 (1+0,2)1/(1+0,05)1
= Rp. 11.429/$
Berarti menurut prediksi international fisher
effect rupiah melemah menjadi Rp. 11.429/$
b. Tingkat bunga riil
yaitu tingkat bunga yang tidak dapat diobservasi
secara langsung. Tingkat bunga riil berpengaruh positif terhadap nilai mata
uang. Negara yang mempunyai tingkat bunga riil biasanya mata uang negara
tersebut akan cendrung menguat karena uang akan mengalir ke negara dengan
tingkat keuntungan yang lebih tinggi. Tingkat bunga riil dapat dihitung secara
tidak langsung dengan persamaan :
(1
+ R) = (1 + a) (1 + i)
Keterangan
:
R = tingkat bunga nominal
a
= tingkat bunga riil
i
= inflasi
persamaan tersebut disederhanakan menjadi :
R =
a + i
Tingkat bunga nominal sama dengan tingkat bunga riil
ditambah inflasi. Jika inflasi meningkat, maka tingkat bunga nominal cendrung
juga meningkat, sehingga mata uang negara tersebut menjadi melemah.
Ø Independensi Bank Sentral
Independensi adalah kemampuan bertahan dari tekanan
(biasanya) pemerintah yang sedang berkuasa. Misalnya untuk mengatasi masalah
pengangguran. Secara pintas adalah dengan menambah jumlah uang yang beredar
sehingga akan menimbulkan inflasi. Jika tingkat inflasi lebih tinggi dari pada
pertumbuhan ekonomi maka pertumbuhan ekonomi riil negara tersebut akan negatif
. Negara yang mempunyai bank Sentral yang independen akan bertahan terhadap
tekanan dan bisa mengendalikan inflasi sehingga mata uang negara tersebut
cendrung menguat. Sebaliknya, negara yang mempunyai bank sentral yang kurang
independen akan mudah ditekan dan mendorong terjadi inflasi sehingga menurunkan
mata uang negara tersebut.
·
Pertumbuhan
Ekonomi
Investor akan tertarik untuk menanamkan modalnya di
negara yang memiliki tingkat pertumbuhan ekonomi yang tinggi, sehingga
menyebabkan naiknya permintaan terhadap mata uang negara tersebut. Dengan
tingginya permintaan terhadap mata uang itu maka nilai dari mata uang tersebut
akan meningkat.
·
Ekpektasi
Mata uang bisa dilihat sebagai sekuritas sehingga bisa
digunakan sebagai alat investasi. Pengaharapan masa mendatang cukup menentukan
nilai suatu sekuritas. Jika pengharapan terhadap suatu mata uang positif, maka
mata uang negara tersebut akan menguat dan begitu sebaliknya.
Berikut ini adalah ringkasan mengenai pengaruh
faktor-faktor tersebut terhadap kurs.
|
Faktor
|
Pengaruh terhadap
kurs
|
|
Inflasi tinggi
|
Depresiasi
|
|
Tingkat bunga
nominal tinggi
|
Depresiasi
|
|
Tingkat bunga riil
tinggi
|
Apresiasi
|
|
Pertumbuhan ekonomi
tinggi
|
Apresiasi
|
|
Independensi bank
sentral tinggi
|
Apresiasi
|
|
Ekspektasi positif
(negatif)
|
Apresiasi
(Depresiasi)
|
C. Eksposur Terhadap Perubahan Kurs
Ada 3 eksposur yang dihadapi oleh perusahaan yang
berhubungan dengan perubahan kurs yaitu : Eksposur transaksi, Eksposur akuntansi
dan Eksposur operasi
·
Eksposur
Transaksi
yaitu eksposur yang terjadi karena perusahaan memasuki
kontrak tertentu yang kemudian memunculkan sejumlah nilai uang yang rentan
terhadap perubahan kurs. Contoh seorang importir Indonesia membeli barang dari
Amerika Serikat senilai $1 juta dan pembayarannya dilakukan 3 bulan mendatang.
Pada saat ini kurs Rp/$ adalah Rp. 10.000/$ namun kurs Rp/$ 3 bulan
mendatang adalah Rp. 12.000/$. Maka importir harus menyediakan rupiah lebih
banyak. Sebaliknya jika kurs Rp/$ menguat pada 3 bulan mendatang, maka importir
tersebut akan memperoleh keuntungan.
Jadi, apabila nilai rupiah melemah, maka importir akan
mengalami kerugian, semakin besar pelemahannya, maka semakin besar kerugian
yang diderita. Akan tetapi apabila nilai rupiah menguat maka importir tersebut
akan memeperoleh keuntungan karena menyediakan rupiah dalam jumlah yang lebih
sedikit.
Dari sisi eksportir, jika rupiah melemah, maka
eksportir akan memperoleh keuntungan karena memperoleh banyak rupiah.
Sebaliknya apabila rupiah menguat, eksportir tersebut akan mengalami kerugian
karena memperoleh rupiah dalam jumlah yang lebih sedikit.
·
Eksposur
Akuntansi
Eksposur akuntansi terjadi karena laporan keuangan
dengan mata uang tertentu kemudian dikonversikan kelaporan keuangan dengan mata
uang lain, rentan terhadap perubahan kurs. Dengan adanya perubahan kurs, maka
proses konversi tersebut bisa menghasilkan keuntungan ataupun kerugian.
Misalnya suatu perusahaan multinasional Jepang memiliki anak perusahaan di
Indonesia, berikut neraca anak perusahaan pada awal tahun :
|
Dalam
Rp.
|
Awal
tahun (¥)
Kurs
= Rp. 80/¥
|
Akhir
tahun (¥)
Kurs
= Rp.100/¥
|
|
|
Kas
|
1.000.000
|
12.500
|
10.000
|
|
Piutang
Dagang
|
2.000.000
|
25.000
|
20.000
|
|
Persediaan
|
2.000.000
|
25.000
|
20.000
|
|
Aktiva
tetap
|
5.000.000
|
62.500
|
50.000
|
|
Total
Aset
|
10.000.000
|
125.000
|
100.000
|
|
Hutang
dagang
|
2.000.000
|
25.000
|
20.000
|
|
Hutang
jangka panjang
|
2.000.000
|
25.000
|
20.000
|
|
Modal
saham
|
6.000.000
|
75.000
|
60.000
|
|
Total
pasiva
|
10.000.000
|
125.000
|
100.000
|
Total aset adalah
Rp.10.000.000. Karena perusahaan ini adalah perusahaan Jepang, maka harus
dikonversikan ke dalam ¥ jepang. Misalkan pada awal tahun kurs adalah Rp
80/¥. Maka akan terlihat bahwa total aset ¥125.000 dan modal saham ¥ 75.000.
Sedangkan kurs pada akhir tahun adalah Rp.100/¥, maka akan terlihat bahwa total
aset turun menjadi ¥ 10.000 dan modal saham juga turun menjadi ¥ 60.000.
penurunan modal saham menunjukan perusahaan mengalami kerugian sehingga modal
sahamnya berkurang nilainya. Namun nilai ekonomis perusahaan tetap sama antara
awal tahun dan akhir tahun karena kerugian ini semata-mata disebabkan oleh
perubahan kurs bukan karena perubahan nilai ekonomis.
·
Eksposur
Operasi
yaitu operasi perusahaan yang rentan terhadap
perubahan kurs. Misalnya, Jepang menjual sepeda motor Honda ke Indonesia. Jika
nilai Yen menguat terhadap Rupiah, maka harga sepeda motor Honda di Indonesia
menjadi lebih mahal dibanding sebelumnya. Sehingga terjadi penurunan daya saing
sepeda motor Honda di Indonesia .
|
Harga
Honda (dalam ¥)
|
Harga
Honda (dalam Rp)
Kurs
= ¥ 0.0125/Rp
|
Harga
Honda (dalam Rp)
Kurs
= ¥ 0.01/Rp
|
|
100.000
|
Rp. 8.000.000
|
Rp. 10.000.000
|
Misalkan harga sepeda
motor tersebut adalah ¥ 100.000. jika kurs yen/Rp adalah ¥0.0125/Rp maka sepeda
motor tersebut akan berharga Rp. 8.000.000 di Indonesia. Apabila nilai yen
menguat terhadap rupiah menjadi ¥0.01/Rp maka harga sepeda motor Honda akan
naik menjadi Rp.10.000.000. Karena harga sepeda motor Honda di Indonesia
semakin mahal, mengaSkibatkan penjualannya menjadi berkurang dan menurunnya
arus kas masuk Honda dari penjualan di pasar Indonesia, sedangkan Honda tetap
melakukan pengeluaran input dan tenaga kerja. Maka operasi Honda akan terganggu
karena pemasukan menjadi lebih sedikit dengan pengeluaran yang tetap sama.
·
Eksposur
Ekonomi
Yaitu nilai perusahaan yang rentan terhadap perubahan
kurs.
Eksposur ekonomi = eksposur operasi + eksposur transaksi
Berhubungan dengan
contoh diatas, karena penjualan Honda terus berkurang, mengakibatkan turunnya
aliran kas Honda. Menurunnya aliran kas menyebabkan harga saham Honda akan
turun. Dengan demikian berarti harga saham Honda rentan terhadap perubahan
kurs.
D. Manajemen Perubahan Kurs
a. Manajemen Eksposur Transaksi
·
Derivatif
Misalkan
importir Indonesia melakukan transaksi pembelian dari eksportir Amerika
Serikat. Dalam hal ini importir membayar $1 juta untuk 3 bulan mendatang.
Keadaan ini sangat rentan terhadap perubahan kurs, apabila rupiah melemah maka
ia akan menderita kerugian. Oleh karena itu dilakukan hedging dengan
derivatif dan instrumen money-market.
Importir
membutuhkan dolar untuk 3 bulan mendatang, sehingga disebut short $.
Apabila rupiah melemah, maka pemegang Short $ akan mengalami kerugian
dan sebaliknya. Sebagai hedge-nya, importir bisa membeli 3 bulan $
forward. Sedangkan jika kurs rupiah melemah, maka pemegang posisi long $
akan memeperoleh keuntungan dan ia akan rugi di posisi spot-nya.
Alternatif
dari forward adalah futures, berarti importir itu akan membeli kontrak
futures dengan posisi long futures $. Alternatif
lain adalah dengan menggunakan opsi call, karena apabila harga pasar aset
meningkat maka pemegang opsi memperoleh keuntungan.
·
Money-market
hedge
Hedging dengan money-market instrument dapat dilakukan
apabila instrument derivatif tidak ada. Contoh : seorang eksportir
Indonesia akan memperoleh $1 juta pada 3 bulan mendatang. Keadaan ini tentu
tidak terlepas dari resiko perubahan kurs, sehingga untuk menghilangkan resiko
tersebut dapat dilakukan hedging sebagai berikut :
Misalkan
tingkat bunga dalam $ untuk 3 bulan mendatang adalah 5 %
T=0
(sekarang) pinjam sebesar $1 juta / (1,05) = $ 952.381.
Dikonversikan
ke rupiah dengan kurs spot Rp. 10.000/$, untuk memperoleh rupiah sekitar Rp.
9,52 M
T=3
(3 bulan) memperoleh $1 juta
Kas
tersebut digunakan untuk melunasi hutangnya sehingga ia membayar sebesar $
952.381 x (1,05) = $ 1 juta.
Ketika
ia mengkonversikan $ ke rupiah, maka ia sudah terbebas dari resiko perubahan
kurs. Apapun yang akan terjadi dengan kurs Rp/$ 3 bulan mendatang, tidak akan
berpengaruh terhadap posisinya karena ia sudah menerima Rp. 9,52 M.
·
Risk
shiftinG
Yaitu
pengalihan/penggeseran resiko perubahan kurs dari produsen ke konsumen atau
dari konsumen ke produsen. Apabila posisi tawar menawar perusahaan lebih kuat
dibandingkan dengan konsumen (misal satu-satunya penjual atau semua penjual
juga mengimpor produk dari luar negri), berarti resiko telah digeser dari
produsen ke konsumen. Sebaliknya apabila posisi konsumen lebih kuat dibanding
produsen maka resiko dapat dialihkan dari konsumen ke produsen.
·
Netting
Exposure
Cara
ini dilakukan dengan menggabungkan eksposur yang berlawanan sehingga eksposur
bersihnya adalah nol. Misalnya seseorang meminjam Dolar sekaligus menjual produk
ke luar negri (ekspor), maka orang tersebut mempunyai dolar (long dolar)
dan di sisi lain membutuhkan dolar (short dolar). Gabungan antara kedua
keadaan tersebut akan menhasilkan eksposur bersih nol (atau kecil)
b. Manajemen Eksposur Akuntansi
Eksposur
akuntansi terjadi jika perusahaan multinasional mengkonversikan laporan
keuangan dari satu mata uang ke mata uang lainnya. Proses konversi tersebut
akan menimbulkan kerugian ataupun keuntungan. Manajemen terhadap eksposur
akuntansi bisa dilakukan dengan menyesuaikan aset dan kewajiban tergantung
prediksi kurs di masa mendatang.
Apabila
kurs melemah, maka sebaiknya aset dikurangi dan kewajiban ditambah. Sebaliknya
apabila kurs menguat maka aset ditambah dan kewajiban dikurangi. Namun cara
seperti ini tidak sepenuhnya dapat menghilangkan resiko karena kita harus
menebak kemana arah pergerakan kurs, jika tebakan salah maka kita akan
menderita kerugian.
Alternatif
lain adalah dengan menggunakan derivatif untuk mencegah kerugian akibat
perubahan kurs. Misalkan perusahaan Amerika serikat mempunya anak perusahaan di
Indonesia dan memiliki situasi seperti berikut ini :
|
Dalam
Rp.
|
Awal
tahun ($)
Kurs
= Rp. 5000/$
|
Akhir
tahun ($)
Kurs
= Rp.10.000/$
|
|
|
Kas
|
1.000.000
|
200
|
100
|
|
Piutang
Dagang
|
2.000.000
|
400
|
200
|
|
Persediaan
|
2.000.000
|
400
|
200
|
|
Aktiva
tetap
|
5.000.000
|
1.000
|
500
|
|
Total
Aset
|
10.000.000
|
2.000
|
1.000
|
|
Hutang
dagang
|
2.000.000
|
400
|
200
|
|
Hutang
jangka panjang
|
2.000.000
|
400
|
200
|
|
Modal
saham
|
6.000.000
|
1.200
|
600
|
|
Total
pasiva
|
10.000.000
|
2.000
|
1.000
|
Jika kurs rupiah melemah dari Rp. 5.000/$ menjadi Rp
10.000/$ maka perusahaan tersebut akan mengalami kerugian. Hedging yang
bisa dilakukan adalah dengan menjual rupiah forward. Apabila perusahaan
bisa mendapatkan partner yang bersedia menjual dolar forward 1
tahun dengan kurs Rp. 5000/$, maka perusahaan tersebut akan menjual rupiah forward
seharga Rp. 6 juta dengan kurs Rp. 5000/$. Tahun depan nilai modal saham dalam
dolar adalah $1.200, karena perusahaan bisa menjual rupiah dengan kurs Rp.
5000/$ meskipun kurs spot-nya saat ini adalah Rp. 10.000/$.
c.
Manajemen
Eksposur Operasi
Eksposur operasi terjadi karena perubahan kurs yang
mengakibatkan terganggunya operasi perusahaan. Manajemen eksposur operasi dapat
dilakukan dengan cara :
1) Jangka Pendek, Yaitu dengan memanfaatkan situasi
perubahan kurs untuk kepentingan perusahaan.
2) Jangka PanjangYaitu dengan mengurangi sensitivitas
operasi perusahaan terhadap perubahan kurs. Pengurangan sensitivitas tersebut
dapat dilakukan dengan cara seperti berikut:
·
Aspek
Pemasaran, perusahaan harus
membuat sensitivitas konsumen terhadap kurs menjadi berkurang , misalnya dengan
melakukan difrensiasi terhadap produknya agar menarik konsumen untuk membeli.
·
Mendiversifikasikan
pasar luar negri, yaitu menjual
produk-produk perusahaan ke berbagai negara di dunia
·
Aspek
Produksi, yaitu dengan
mendiversifikasikan inputnya dan memindahkan fasilitas produksinya
·
Aspek
lain, contohnya apabila
perusahaan jepang menjual produknya ke Amerika Serikat dan menerima $.
Perusahaan tersebut bisa meminjam dalam $, sehingga eksposur bersihnya adalah 0
E.
Resiko Perbankan
Bank disebut bersifat “khusus”
karenapermasalahan di perbankan bisa mengakibatkandampak yang serius bagi perekonomian.
Bank sebagai perantara (intermediary),
artinya, bankadalah sebuah lembaga untuk menyalurkan danadeposito dari nasabah
kepada perusahaan-perusahaan (yang berupa suatu pinjaman).
Apabila pinjaman yang diberikan bank
ternyatatidak dapat dikembalikan oleh perusahaan, hal inakan menimbulkan
insolvabilitas (insolvency)yang akan merusak modal pemegang saham(shareholder
equity) dan dana dari nasabah. Halitu disebabkan karena bank memiliki rasio
utang terhadap modal (gearing) yang tinggi (highlygeared / highly leveraged).
Tidak seperti perusahaan keuangan,
maupunindustri lain, regulasi bagi industri perbankantidak hanya mencakup
produk dan jasa yangditawarkan, tetapi juga mencakup lembaga bankitu sendiri.
Hal ini karena kegagalan bank akanmemberikan dampak jangka panjang yangmendalam
terhadap perekonomian.
Risikoperbankanadalahrisiko
yang dialamioleh sector bisnisperbankansebagaibentukdariberbagaikeputusan yang
dilakukandalamberbagaibidangsepertikeputusanpenyalurankredit,
penerbitankartukredit, valutaasing, inkaso, danberbagaibentukkeputusan
financial lainnya, dimanaitutelahmenimbulkankerugianbagiperbankantersebut,
dankerugianterbesaradalahdalambentuk financial.
Secaraumumterdapatdelapan (8)
risikoyang dihadapiolehperbankan,yaitu:
a.
Risikokredit,
yaiturisiko yang disebabkanolehketidakmampuanparadebiturdalammemenuhikewajibannyasebagaimana
yang dipersyaratkanolehpihakkreditur.
b.
Risikopasar,
merupakanrisiko yang disebabkankarenaadanyapergerakanpasardarikondisi normal
kekondisi di luarprediksiatautidak normal
sehinggamenyebabkanperbankanmengalamikerugian.
c.
Risikooperasional,
merupakanrisiko yang timbulkarena factor internal bank yaitusepertikesalahan
system computer, human error danlainnya.
d.
Risikolikuiditas,
merupakanrisiko yang
dialamiolehpihakperbankankarenaketidakmampuannyamemenuhikewajibanjangkapendeknya.
e. Risikohukum, risiko yang
timbulkarenakelemahanaspekyuridisantara lain disebabkanadanyatuntutanhukum,
tiadanyaundangundang yang
mendukungataukelemahanperikatansepertisyaratsahnyasuatupengikatanjaminan yang
diagunkandebitur.
f. Risikoreputasi, yaiturisikokarenaadanyapublikasinegatif
yang terkaitdengankegiatanusaha bank ataupersepsinegatifterhadap bank
g. Risikostratejik, merupakanrisiko yang
timbulkarenapenetapandanpelaksanaanstrategi bank yang tidaktepat,
pengambilankeputusanbisnis yang kurangresponsifterhadapperubahaneksternal.
h.
Risikokepatuhan,
Risiko yang terjadikarenatidakmematuhidantidakmelaksanakanketentuan yang
berlaku
Dari
keempatrisikotersebuthasilrisetmenyebutkanbahwarisikoterbesar yang
dialamiolehpihakperbankanadalahrisikokreditsehinggasangatwajarjikarisikokreditmenempatiurutanpertama
yang mendapatperhatian.
Berkaitan dengan hal tersebut,
otoritaspengawas perbankan (supervisor) menetapkan:
a.
Struktur Modal.Struktur modal adalah
cara bank untukmendanai bisnisnya, biasanya melalui kombinasipemberian saham,
obligasi, dan penerimaanpinjaman.
b. Persyaratan
Modal Minimum.Sebuah
bank dikatakan memiliki modal yangcukup jika bank tersebut memiliki sumber
dayafinansial yang memadai untuk mengantisipasipotensi kerugianyna.
c.
Tingkat Likuiditas
Minimum.Bank dikatakan memiliki
likuiditas yang cukupjika bank tersebut memiliki sumber daya finansialyang
memadai untuk mendanai aktivanya(asetnya) dan memenuhi kewajibannya saatjatuh
tempo.
F. RisikoLikuiditas
RisikoLikuiditasmerupakanbentukrisiko
yang dialamiolehsuatuperusahaankarenaketidakmampuannyadalammemenuhikewajibanjangkapendeknya,
sehinggaitu member
pengaruhkepadaterganggunyaaktivitasperusahaankeposisitidakberjalansecara
normal.Olehkarenaitu, risikolikuiditasseringdisebutdengan short term liquidity
risk.Contohnyaperusahaantidaktepatwaktudalammembayargajikaryawan,
pembayaranlistrik yang terlambat, pembayarangajiburuh yang terlambatdansebagainya.Sehinggakondisiinimemberikanarahbahwaperusahaansudahmengalamipermasalahankeuangan,
yaituberupatertundanyaberbagaikewajibanjangkapendek.
Untukmenganalisissecaramendalamtentangrisikolikuiditasdapatdilakukandenganmenganalisiskondisikemampuansuatuperusahaan
yang dapatdilihatdarisegi:
-
Analisisaruskas
-
Analisiskewajibanjangkapendek
-
Melakukananalisisterhadaparusdanajangkapendek.
Sebab-sebabterjadinyaRisikoLikuiditas
Ada
beberapasebab yang melatarbelakangiperusahaanmengalamirisikolikuiditas, yaitu:
a. Utangperusahaan yang beradapadaposisi extreme
leverage, artinyautangperusahaansudahberadadalamkategori yang
membahayakanperusahaanitusendiri.
b. Jumlahutangdanberbagaitagihan yang datang di saatjatuh
tempo sudahbegitubesar, baikutang di perbankan, leasing, mitrabisnis, danberbagaibentuktagihanlainnya.
c.
Perusahaan
telahmelakukankebijakanstrategi yang salahsehingga member pengaruhpadakerugian
yang bersifatjangkapendekdanpanjang.
d. Kepemilikanasset
perusahaantidaklagimencukupiuntukmenstabilkanperusahaan,
yaitusudahterlalubanyak asset yang dijual.
e. Penjualandanhasilkeuntungan yang
diperolehterjadipenurunan yang sistematisdanfluktuatif.
SolusiUntukMengatasiRisikoLikuiditas
Ada
beberapasolusi yang dapatdiberikan agar
suatuperusahaanterhindardaritimbulnyarisikolikuiditas, yaitu:
a.
Melakukankebijakankeuangandenganprinsipkehati-hatian
(prudential principle).
b.
Menempatkansetiapkeputusanperusahaansesuaidengansituasidankondisi
yang ada, yaituberdasarkananalisajangkapendekdanjangkapanjang
c.
Menghindarikeputusan
yang bersifatmengejarkeuntungan yang bersifatjangkapendek,
namunmampumemberikankerugian yang bersifatjangkapanjang. Bahwamemperoleh profit
secarakonstanbertumbuhadalahlebihamandaripadasecaramaksimal profit,
namunbersifatfluktuatif.
d.
Memperhatikandanmengamatidenganbaiksetiapkebijakanmoneter
yang diterapkanpemerintah, sepertikebijakanpenetapansukubungadansebagainya.
e.
Pihakmanajemenperusahaansebaiknyajugamemahamikondisimikrodanmakroekonomisecarabaik.
Sepertikondisipolitikkeamanandalamdanluarnegeri social danpolitik.
f.
Melakukanpendekatan
hedging untukmenyesuaikanjatuh tempo antaraaktivadankewajiban
g.
Melakukanperbaikandalambiayadanpengendalianproduksi
h.
Melakukanperjanjiandengan
bank dalampenyediaankredit, denganmenghindariutangberlebihan,
mempertahankanpembayaranutang, danmemperpanjangjatuh tempo pembayaranutang
i.
Menghindarioperasiluarnegeri
di Negara-negaraberisikotinggi.
j.
Menurunkanhargapadajenisbarang
yang susahdijualdanmeningkatkanhargapadabarang yang tingkatpermintaannyatinggi.
BAB
III
KESIMPULAN
-
Resiko
nilai tukar adalah resiko yang diakibatkan karena adanya perubahan nilai tukar
mata uang asing. Pada umumnya, transaksi-transaksi bisnis yang berhubungan
dengan mata uang asing (valuta asing) biasanya akan menghadapi masalah
perubahan nilai kurs mata uang tersebut.
-
Faktor yang
mempengaruhi resiko kurs adalah inflasi, tingkat bunga, independensi Bank
Sentral, Perubahan Ekonomi, dan ekspektasi.
-
RisikoPerbankanadalahrisiko
yang dialamioleh sector bisnisperbankansebagaibentukdariberbagaikeputusan
financial yang dilakukan, yang menimbulkankerugianterutamakerugian financial
bagiperbankantersebut.
-
Risikolikuiditasmerupakanbentukrisiko
yang dialamiolehsuatuperusahaankarenaketidakmampuannyadalammemenuhikewajibanjangkapendeknya.
-
Solusiuntukmengatasirisikolikuiditasantara
lain: melakukankebijakankeuangandengan prudential principle,
menempatkansetiapkeputusanperusahaansesuaidengansituasidankondisi yang ada,
menghindarikeputusan yang bersifatmengejarkeuntungan yang
bersifatjangkapendeknamunakanberdampakkerugianjangkapanjang, menghindariutangberlebihan,
mempertahankanpembayaranutangdanmemperpanjangjatuh tempo pembayaranutang.
DAFTAR PUSTAKA
-
Artikel
“Risk Based Enterprise Asset Management”, Capgemini, Website 2007.
-
AS/NZS
4360:2004, Australian/New Zealand Standard Risk Management, Joint Technical
Committee OB-007 Risk Management, 31 Agustus 2004.
-
Darmawi,
Herman. Manajemen Resiko.
Bumi Aksara, 2005.
-
Fahmi, Irham. ManajemenRisiko:
Teori, KasusdanSolusi, 2013. Alfabeta, Bandung.
-
Umar, Faisal, 2002, Analisis
Manajemen Risiko, Muda Karya, Jakarta.
-
Vaughan,
Emmet. Fundamental of Risk and
Insurance. 2nd, John Willey, 1978
Langganan:
Komentar (Atom)
